terhalanggarisdarah
Fiction

Terhalang Garis Darah

Dari jauh kuperhatikan wajah seseorang yang mengisi dan mewarnai hariku beberapa tahun terakhir ini. Kini dia duduk bersanding dengan orang lain di depan sana, masih tidak percaya jika ini semua terjadi seperti yang tidak aku harapkan.

Aku mengunyah pelan nasi dan lauk khas pesta pengantin untuk mengisi kekosongan perut namun tak mampu mengisi kekosongan hati.

Bayanganku kembali kebulan lalu sebelum memutuskan untuk menghadiri pesta pernikahan ini.

Kita begitu dekat tak terpisahkan, bahkan orang tua menyambut hubungan ini dengan bahagia.

Kedua orang tuamu pun juga demikian, menganggapku seperti anaknya sendiri, bahkan mereka menitipkan engkau untuk aku jaga.

Dan benar aku menjagamu dengan baik untuk dimiliki orang lain,

“Ini maunya Etta tidak bisa ka menolak Daeng, kita sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, kita dekat seperti saudara kandung”

Harusnya aku tahu dari awal hubungan ini akan terhalang oleh garis darah.

Baca juga : Dosa Termanis

Sedang sayang-sayanganya, diriku engkau tinggalkan

Kau buat aku merana sengsara dibuai dusta

Mengapa kau beri rasa, jika kau tak menjaganya

Gagal Merangkai Hati- Maulana Wijaya

Baca juga : Kita Ini Apa?

Senandung lagu yang dinyanyikan oleh sang vokalis begitu syahdu. Seolah mengerti dan tahu akan kondisi hati yang sedang berkecamuk didalam sini. Ditengah ramainya para tamu yang silih berganti berdatangan aku duduk menyendiri disudut ruangan pesta yang megah sambil sesekali menatap kedepan.

Tak seperti lagu yang sendu, wajah kedua mempelai dan para tamu begitu bahagia. Kedua mempelai tak pernah berhenti tersenyum menyambut para tamu yang membawa bingkisan ataupun sebuah amplop yang tak bisa ditebak isinya.

Para tamu pun demikian bahagianya disambut senyum oleh tuan rumah yang menyuguhkan berbagai jenis makanan dan minuman siap untuk disantap.

Dikejauhan ku lihat dia memanggilku untuk foto bersama, tapi aku memberi isyarat menolak. Tapi, dia terus memanggil berteriak. Ini adalah mimpi buruk yang pernah aku alami, rasanya aku ingin cepat-cepat bangun dari tidurku dan mengakhiri ini semua.

Dia masih terus memanggilku,

“Daeeeeeeng….. bangunki sholat subuh” teriakan itu begitu keras memekikkan telinga.

Note:

  • Daeng : Sebutan dalam bahasa Bugis yang berarti Kakak atau Abang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *