Fiction

Tentang Hujan

anjana-menon-212087-unsplash

TENTANG HUJAN


Musdalifah Mansur

Tentang hujan yang selalu terdengar merdu di telinga.Tentang rinainya yang bernada indah membawa hati ingin menari di bawah hujan. Suatu sore kutemukan diriku termangu di jendela sambil memandangi langit yang sendu. Hujan turun dengan indah mendarat lembut di bumi, jari-jariku keluar ke jendela menyapa hujan yang kunanti sejak musim lalu. Suara merdu dari hujan membuatku terlelap. Rasa nyaman ini hadir hanya ketika hujan turun dan aku menikmati setiap harum yang tercium dari tanah selepas hujan. Entah sejak kapan aku berkenalan dengan rasa ini. Entah sejak kapan hati ini merindukannya.

Tentang hujan kala itu yang mempertemukanku dengan dia. Sore itu, sepertinya memang semesta sengaja mengatur pertemuan itu. Sejak sore hingga malam tiba, hujan masih saja betah dengan derasnya. Waktu itu sepulang dari kampus, hujan menyambar tanpa ada kode. Kupinggirkan motorku menuju masjid untuk berteduh. Setelahku datang lagi seorang berjaket hitam, mungkin niat kami sama. Kami berdua berdiri dengan jarak yang cukup jauh. Memandangi langit yang sama seolah mengajaknya berbicara untuk segera mereda. Kami pun lelah berdiri dan duduk dipelataran masjid yang bernuansa hijau itu. Kami masih membisu, hanya suara hujan yang riuh mengajak menari.

Azan magrib berkumandang mengajak untuk melapor diri ke Sang Pencipta. Selesai beribadah kau menyapaku dengan senyum manis. Kau merapikan rambut belah sampingmu yang masih basah dengan wudhu sambil melihat ke arah jalan dan terus berbicara tentang cuaca hari ini. Aku memandangimu dari samping, di sini hidungmu terlihat tinggi menjulang. Reda hujan memisahkan kita tanpa perkenalan kita berdua kemudian berlalu tanpa pamit.

Pertemuan singkat yang mungkin membuatku selalu rindu. Entah kau dari belahan bumi mana tetapi yang aku tahu kau masih di bumi. Aku tidak berharap bertemu denganmu lagi, hanya saja aku sedang mencari tahu bagaimana rindu ini semakin tajam ketika hujan turun. Aku juga tidak tahu bagaiman menghilangkan rasa yang tersimpan sejak lama ini. Mungkin ini adalah sebuah kebodohan terindah yang kumiliki, merindu tanpa tahu bagaimana menghabiskannya. Jika kau baca tulisan ini, mungkin kau juga tengah merindu. Tapi sudahlah, biarkan aku yang menikmati ini dengan kedirianku sendiri.

Makassar, Mei 2019

             Musdalifah Mansur

       

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version