Fiction

Rasa ini


Photo by Satria SP on Unsplash

Rasa ini
By

Ippoet




Aku hanya ingin sendiri menikmati waktu bersama dengan diriku sendiri yang selalu berusaha menjadi periang. Padahal, di dalam sini ada yang sedang menangis tersedu-sedu. Rasa ini benar-benar membuat hati ini pilu. Biarkan aku memeluk diriku sendiri itu yang kubuthkan saat ini karena sungguh hanya diri ini yang mengerti rasa ini. Entah berapa banyak hal-hal yang sia-sia kuhabiskan diumurku yang kemarin. Entah berapa banyak kata yang keluar dari lidah ini tanpa tahu apakah ada yang tersakiti atau tidak dan jika ada siapakah mereka, bagaimana caraku meminta maaf padanya. Entah berapa kali raga ini selalu tergoda untuk melakukan sesuatu diluar dari aturan-aturan yang pernah dibuatNya. Aku sungguh tak mampu lagi mengingat dan menghitung semuanya satu persatu. Malaikat juga tak sudi memberitahu salah mana yang perlu kuperbaiki agar kelak bebanku berkurang di hari akhir nanti. Karena sungguh aku tidak bisa membayangkan apakah aku mampu memikulnya kelak, apakah mampu memberikan pertanggungjawaban yang layak di hadapanNya. Entah berapa kali hati ini berburuk sangka pada ketentuan yang Dia tetapkan untuk hidupku, entah berapa kali aku mengeluh dengan keadaan hidup yang tak pernah kusyukuri bahkan aku tak pernah tahu bahwa hidup yang kujalani sekarang adalah impian banyak orang. Entah rasa ini selalu menjadi tidak tenang dengan semua yang terjadi kemarin, apakah hari esok masih memberi kesempatan untuk menjadi baik atau sekadar menebus kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu? Apakah mentari esok hari masih memberikan harapan untuk menjadikan diri ini versi terbaik dari yang pernah ada? Apakah esok masih menjadi dambaan bagi pendosa untuk sekadar bertaubat?.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version