My Story

Pertama kali naik pesawat sendiri

Lanjutan.

Ceritanya berangkat sendiri ke Jogja tanpa teman ataupun kerabat. Jogja adalah kota pertama saya kunjungi sendiri. Hihihihi……  berani betul saya cewek pula. Aahh… bodo amat yang jelas tiket sudah dibooking. Jadi, saya akan berangkat pukul 7.00 pagi. Masih pagi-pagi buta ya dan jam 5  paling lambat saya harus ada dibandara Sultan Hasanuddin Makassar dan sekadar info ini juga kali pertama keluar kota naik pesawat sendirian, mengurus tiket juga sendirian dan belum tahu bagaiamana caranya check innya. Saya pun kemudian tiba di bandara diantar oleh adek sepupu saya yang cewek, sejak pukul 4 subuh tadi kemi sudah siap ke bandara dengan mengendarai naik motor Berta (baca: nama motorku) jaraknya mungkin sekitar 20an km lebih. Setibanya kami dibandara saya langsung liat jadwal check in dan benar saja ini jadwalnya tiket saya. Kemudian pamit dari adek sepupuku, masuk kedalam untuk check in. Sok-sok sudah sering kebandara, mata ini mencari counter G***** yang entah dimana itu. dan bertanyalah saya kepetugas bandara yang sedikit agak cakep itu. “Pak, counter G***** dimana ya?” bertanya sok cantik padahal belum mandi. “Sebalah sana de”, “Terimakasih Pa”. Si bapak senyumnya manis sekali di pagi yang masih gelap ini.  Pertama kali scheck in pake aplikasi, pake hape. Biasanya bukan saya yang urus beginian, tapi sudahlah saya yang pergi sendiri jadi harus urus sendiri. Pagi masih gelap sekali, masih sepi di bandara. Setelah check in masuklah saya sok-sok tahu arah begitu. Kemudian periksa tiket dan sebelum ke lantai 2 bandara tempat menunggu panggialn itu, ada pemeriksaan. Ini yang kadang saya jengkel, semua harus buka, jaket, jam tangan tas dan lain-lain tapi sebagai passenger aturan harus kita ikuti. Selanjutnya naiklah saya ke atas, ada sensasi tersendiri ke bandara sendirian (hahahahah…. kampungan sedikit gak apa-apa kali ya). Sementara mata ini mencari Gate 4, kaki ini terus melangkah ragu, nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana? Sekeliling tak nampak orang saya kenal. Betul-betul sendiri di tempat ini. Tak lama azan Shubuh berkumandang, dan segera ambil wudhu. “Yaa Allah, lindungilah hambaMu ini, yang sendiri melangkahkan kaki untuk masa depannya, hadirkan orang-orang yang baik disekelilingku Yaa Allah, hanya padaMu tempatku berlindung dan meminta. Aamiin”

Selesai sholat Subuh, tampak mulai ramai, tapi tetap saja tak ada yang bisa ku kenali disana. Duduklah saya di kursi agak di belakang. Tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya duduk disebelah kanan saya, selang 5 menit beliau memulai pembicaraan. Kebetulan dia bukan orang Jogja tapi Semarang, di Makassar dia sedang berlibur karena suaminya kerja disini. LDR ya berarti. Kami bertukar kontak dan no handphone. 10 menit kemudian pesawatnya sudah berangkat terlebih dahulu. Jadi saya sendiri lagi, meskipun mata ini sudah berat sekali. Mengantuk berat, rasanya tidur cuma dua jam saja. Agak lama juga saya menunggu di di bandara hingga harus delay bebrapa menit. Awww……. ngantuk……. dan suara panggilan itu tiba-tiba membuat mataku berbinar-binar dan segera bangkit ke tempat duduk mengambil tempat untuk antri. Dari kejauhan nampaknya saya mengenal beberapa orang. Wah ternyata mereka adalah dosen-dosen kami di kampus, dan ada Prof kesayangan kami. Yeayyy….. wah ternyata kita satu pesawat. Horeeee…… aku nggak sendirian. Paling tidak dipesawat heheheh. Sambil anri kami cerita-cerita banyak, masuk ke Gate dan turun tangga lagi menunggu mobil yang akan membawa kami ke pesawat yang dituju. “Mahasiswa berprestasi” kata Prof sambil tersenyum ‘ Iye Prof, siapa Prof?” tanyaku bingung. “Kita maksudnya”. Sambil mengarahkan matanya padaku. Aku menunduk dan tersipu malu, aduh saya masih jauh dari kategori seperti itu, masih butuh banyak untuk bisa seperti itu tapi dalam hati saya Aminkan. Semoga doa Guru Besar kami di dengar oleh Allah SWT. Aamiin.
Ternyata jarak pesawat kita agak jauh juga ya. And tadaaaaaaaaaaaa……………… what??? Pesawat nya gak pake tangga yang tinggi itu ya?kok kecil pesawatnya ya? Sengaja pilih G***** supaya nyaman di pesawat. Lahh.. ini kok malah kecil. Dari belakang terdengar Prof sedang menjelaskan kepada anaknya. “ Nah.. ini pesawat yang akan membawa kita ke Jogja Nak, ini pesawat Bombardir jadi memang kecil bukan Boeing yang seperti biasanya”. Dari belakang saya merekam, Yaa Allah ternyata jenis pesawat banyak yaah.. ampun saya hahahahah. Seatnya 2-2 bukan 3-3 seperti pesawat Boeing ya?. Masuk kedalam pesawat sudah dag-dig-dug berharap duduk berdekatan dengan Prof, Tapi ternyata tidak saya duduk agak dibelakang dan dekat jendela. Dari pesawat mulai bergerak sampai lepas landas, mulut ini tak pernah stop komat-komit “Astagfirullah, Laa Haula Wala Kuata Illah Billah” berulang terus dan terus. Kalau jatuh badan ini benar-benar hancur. Naudzubillah deh….
Ketika pesawat sudah di posisi aman, saya mulai memenjamkan mata berniat untuk tidur tapi dalam hati dzikir terus. “Yaa Allah hidup dan Matiku ku serahkan padamu”. Waktu tempuh Makassar-Jogja sekitar dua jam, selama itu saya tidak bisa tidur. Setelah sarapan di pesawat, tak lama dari balik jendela mulai nampak penampakan kota Jogja. Sebentar lagi kita akan sampai. “Para penumpang yang terhormat, dikarenakan landasan di bandara masih sangat ramai jadi kita delay untuk mendarat beberapa menit”. Yahh… kira-kira seperti itu isi pengumuman barusan. Jadi pesawat harus putar-putar di atas sini sekitar 15 menit. Yaa Allah nampak jauh Prof mulai gusar, apalagi saya. Ini kenapa pesawatnya pake mutar-mutar segala lagi, semakin menambah kecemasan saja. Tapi dari luar berusaha tenang dan menghibur diri. Panorama Gunung Bromo dari kejauhan sedikit menjadi hiburan, ahhh sayang kamera saya ada di cabin pesawat, tak sempat foto padahal cantik sekali. Saya melihatnya dua kali, karena pesawat ini mutarnya juga dua kali.

Dan Alhamdulillah sudah tiba di Jogja, tinggal menunggu koper dulu sambil cerita dengan Prof dan dosen-dosen kami yang lain. Dalam hati mikir, nanti saya pakai gojek atau apa ya? Aduuhh… baru pertama kali kesini saya gak tau apa-apa ini. Koper sudah ditangan, pura-pura seolah menunggu seseorang sambil pegang hati. Sebenanrnya saya bingung, ini mau pake taxi, taxi bandara atau taxi online ya?. Terlihat dari jauh Prof sibuk dengan akomodasi dan bicara di counter penyewaan mobil. Ini saya harus bagaimana ya, bingung juga. Lama mikir ya sudah saya putuskan pakai taxi bandara. “Mau kemana mbak?”. “Ke Seturan Pak”. “Oo.. Seturan 80rb ya mbak”. “Oke”. Kuitansi sudah di tangan, tiba-tiba Prof manggil.
“Ippo saya sudah booking mobil ya, nanti kita jalan-jalan dulu ke Jogja”.
“Tapi Prof, saya sudah booking mobil juga untuk ke penginapan”.
 “Yahh… kenapa booking mobil ini saya sudah sewa juga, tapi dag apa-apa”.
“Jadi Prof?”
“Atau ke Hotel saya saja dulu”
“Boleh Prof, tapi saya ke Penginapan saya dulu karena itu Anu Prof, biasa cewe”
“Oh.. begitu” nampaknya Prof mengerti masalah cewek heheheh
“Baiklah, tapi jangan lama ya. Hotel saya disini” sambil menunjukan gambarnya.
“Baik, Prof”
Dan akhirnya kami pun berpisah. Tak lama saya tiba di seturan, belum masuk sih karena check in nya jam 2. Jadi nitip tas dulu langsung berangkat ke Hotelnya Prof. Di kota yang pertama kali saya menginjak kaki disini, seolah gak takut kemana-mana. Sebenarnya dag-dig-dug juga sih. Tapi ini adalah tantangan bagi saya. Tak lama taxi online pun datang setelah menunggu beberapa menit saja, selanjutnya menuju hotelnya Prof.
“Ippo .. dimana mi ki? Masih lama ki?” terdengar suara Prof mulai panik, wah Prof keknya marah nih saya terlalu lama di jalan. Macet soalnya..
“Iye Prof, tidak lama mi Prof, tinggal beberapa menit lagi ini Prof”
“Ohh Iya pale, ini masa saya tidak bisa check in trus saya sudah booking di B***.com”
“Hah… kenapa bisa Prof” sontak saya pun kaget
“Iye ini tidak tau juga kenapa bisa”
“Iye Prof saya segera kesana”
Waduuhh… Prof mulai gelisah, loh kenapa bisa  ya tidak bisa check ini, katanya dibatalkan waduhh.. pusing saya
“Pak, masih lama ya Pak”
“Sebenarnya bisa cepat mbak cuma ini lagi macet banget”
“Baik Pa, ini dosen saya katanya sudah booking hotel tapi di batalkan dan katanya benar dia sudah booking, jadi khawatir juga saya”
“Lah kok bisa ya mbak”
“Mungkin ada yang salah dengan sistem atau apa ya Pak”
“Barangkali mbak”
Selang beberapa menit saya masuk ke hotel dan mencari sosoknya Prof, tapi ternyata didalam tidak ada. Saya telpon lagi tidak di angkat. Waduhh… ampun saya. Saya harus siap-siap kena semprotnya Prof kalau begini. Tiba-tiba beliau menelpon, dan kami bertemu. Kemudian kami bicara kembali dengan receptionist hotel setempat. Kami pun saling berpandangan, dan beliau bicara ke suami beliau bahwa solusinya pesan kembali yang baru. Dan beliau mengangguk pertanda setuju. Baiklah, situasi mulai terkendali sedikit. Saya pikirnya akan dimarahi tapi ternyata tidak. “Yaa Allah saya tambah kagum dengan beliau”. Setelah lama berdiri ternyata memang betul Prof sudah booking dan membatalkannya tapi kemudian booking lagi dan receptionisntnya kurang jeli melihat kode yang ada didalam sana. Ahh entahlah saya tidak mengerti. Masalah pun mulai membaik. Akhirnya, Prof akan check in dengan kamar yang sudah di booking sebelumnya.
“Oke Ippo ayo kita berangkat”
“Iye Prof”

Dan kita On The Way ke Keraton. Yeayy…….
***
Setelah make sure penginapan Prof aman terkendali dan sebagian barang sudah di masukkan ke dalam kamar. Rencana selanjutnya adalah jalan-jalan ke berbagai wisata yang ada di Jogja. Saya sebagai orang yang ceritanya ikut doank, yah menurut saja apa kemauan Prof. Disuruh bawa tas saya juga mau , heheheheh. Tapi Prof tidak se-tega itu sepertinya. Prof kemudian menawarkan desitinasi Keraton Jogja. Beliau hafal betul daerah ni, karena waktu menmpuh studi S2 beliau kuliahnya di Universitas bergengsi di kota ini dan punya banyak kenangan tentunya, menurut cerita beliau. Banyak hal yang kami bicarakan sepanjang perjalanan, saya duduk di jok paling belakang, beliau dan putranya duduk di tengah dan suami beliau ada di bagian depan berdampingan dengan pak sopir. Banyak pertanyaan yang beliau lontarkan kala itu, mulai dari kenaopa say terlambat selesai waktu s2 kemarin, apa rencana studi saya untuk s3 ini dan masih sangat banyak. Beliau sangat dekat dengan mahasiswanya. Dan berharap jika beliau yang akan menjadi promotor saya nantinya. Sangat terbuka dan senang memberi kami saran yang membangun.  Tak berapa lama kemudian kami tiba di Keraton Jogja. Wah luar biasa, Alhamdulillah bisa sampai ke tempat ini, yang bahkan tidak pernah saya impikan dan gratis. Untuk masuk ke dalam keraton kita harus membayar Rp.10.000 kalau tidak salah waktu itu dan Rp. 1.000 untuk satu kamera bagi yang membawa kamera untuk foto-foto tentunya kita dapat stiker keraton yeayy…. Ketika masuk dikeraton kita disambut dengan nuansa kerajaan yang artistik, mulai dari desain disetiap bangunan, alunan musik gamelan dan beberapa benda-benda peninggalan sejarah. Saya tidak tahu harus berkata apalagi, suatu kesyukuran yang luar biasa, kubiarkan diriku tenggelam menikmati pemandangan sekitar. Nampak beberapa wisatawa asing yang tengah dimabuk oleh suara musik khas jawa itu. Untuk masuk kedalam padepokan yang didalamnya kita bisa menikmati langsung alunan musik itu, kita harus membayar sejumalh rupiah. Namun, tampak kejauhan saya pun bisa menikmati langsung meskipun gratis.
“Ippo.. Ayo foto” suara dosen terbaik ku membuyarkan lamunanku
“Iye Prof,”
Tak berapa lama kita asik berpose di beberapa spot yang cantik dan yang mempunyai ciri khas Jogja.  Entah kenapa saya tidak gila foto kali ini, mungkin karena masih takjub bisa berada di tempat ini. Yah… nasib orang tidak pernah keluar pulau.
“Ippo ambil gaya disana nanti saya foto”
“Iye Prof” tentunya saya masih sangat canggung di foto oleh beliau, dan kita bergantian. Giliran beliau yang berpose.
“Foto ki sama-sama”
“Iye Prof”.

Beliau adalah sosok yang sangat senang berbagi, di perjalanan belau bercerita tentang “Sang Etnograf” yang merupakan buku beliau. Menurutku itu adalah kisah hidup beliau. Kembali dari Jogja, langsung mencari membeli buku beliau. Ini di ambil oleh suami beliau, kami berdua berpose di dekat bungalow yang ada dihalaman keraton.

Setelah berpuas diri mengambil gambar, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Borobudur. Ternyata jarak Borobudur kira-kira 42 km dari Keraton Jogja, jarak tempuh sekitar 1 jam 19 menit itu kalau lalu lintas lancar. Sepanjang perjalanan kami berccerita banyak hal, dan beliau menawarkan pisang goreng yang di buat waktu masuh di makassar da, cukup enak. Hari sudah siang, waktu dhuhur dan makan siang sudah saatnya. Prof dan suami serta pak sopir sedang diskusi apa kita makan dulu kemudian melanjutkan perjalanan atau dilanjut saja sekalian. Dan akhirnya kita memutuskan untuk makan siang dan istirahat sejenak.
 Tiba di rumah makan yang saya lupa namanya apa, kita langsung menuju ke lesehan yang disekitar ada kolam ikan mas yang sangat cantik. Lesehan itu mirip seperti rumah terapung, di bawah kita bisa menikmati dan memberi makan ikan. Saya ditanya kala itu mau makan apa, ya iyalah saya bilang apa aja Prof hihihihiihi…. maklum mahasiswa senang sekali di ajak lunch sama dosen kesayangannya apapun yang disuguhkan terima saja. Hihihihi. Sambil menikmati santapan siang, kami bertukar cerita beliau juga selalu memberikan saya nasehat-nasehat bahwa untuk mencapai kesuksesan itu harus sabbara’ki (Bahasa Bugis: harus sabar). Dan beliau juga banyak bercerita tentang pengalaman hidup beliau yang ditolak beberapa kali waktu melamar kerja dan suami beliau juga memberikan arahan kepada saya bahwa sejatinya kerja keras itu tidak ada yang sia-sia. Keluarga beliau sangat baik, Masya Allah. Setelah sholat dhuhur, kami pun melanjutkan perjalanan. Saya sedikit memerhatikan plat motor yang terparkir disebelah mobil yang kami tumpangi. Kode ‘B’ wah yang biasanya saya sering melihat ‘DD’. “Saya betul ada di Jogja ini” berkata dalam hati senyum sendiri sambil menutup pintu mobil menuju Borobudur. Rasanya belum percaya kalau saya ada di Jogja. Sepanjang perjalanan saya melihat hamparan sawah yang luas. Tak lama kemudian nampak dari kejauhan Stupa dari Borobudur. “Yaa Allah ku lihat betul mi Borobudur kesina”. Ada bulir-bulir air mata di pelupuk mata ini cepat-cepat ku hapus takut ketahuan sama Prof.
Pelataran Candi Borobudur ternyata sangat sangat luas. Butuh berjalan beberapa meter untuk mencapai candi. Wow….. panas. Hahahahahaha. Banyak orang yah… dalam hati bicara terus. Sebelum  masuk ke area Candi Borobudur, kita wajib membeli tiket. Sambil mencari tempat beli tiket, tangan kanan ini meraba dompet yang ada di dalam tas. Tiba didepan loket,
“Tidak usah mi di bayar Ippo. Sudah mi saya bayar semua” sambil tersenyum Prof merangkul ku mengajak keluar mencari topi, karena cuaca sangat panas.
“Iye Prof,Terimakasih banyak”. Saya benar-benar terharu, pengen nangis deh pokoknya saya ini. Ini namanya durian runtuh, semua akomodasi gratis. Beli topi pun Prof yang bayarkan. Pulang dari Jogja, topinya disimpan baik, di pajang sebagai kenang-kenangan dari Prof. Kami selalu mengambil gambar disetiap sudut sebelum menaiki candi. Ternyata butuh tenaga extra juga ya untuk mendaki, untung tadi sudah lunch, kalau enggak, waduhhh….. hahahah.
Taken by Prof kesayangan aku

Sampai di stupa kami berpose lagi, topi hadiah dari Prof, juga di foto sama beliau.“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan” (Ar-Rahman). Kami beristirahat sejenak sebelum kembali turun dari puncak candi. Pemandangan dari atas sini Masya Allah. Yaa Allah SWT, sungguh sangat beruntung saya bisa menikmati pemandangan cantik seperti ini tanpa mengeluarkan sepeserpun.Perjalanan keluar dari area candi cuku berkelok-kelok. Kami disuguhkan oleh pasar-pasar traditional sepanjang perjalanan keluar yang sedikit memaksa kita untuk membeli beberapa buah tangan entah itu miniatur mini dari candi ataupun sejumlah baju kaos yang khas akan tempat wisata ini. Ternyata cukup melelahkan tapi terbayarkan oleh pemandangan dari atas sana yang sangat indah. Masya Allah.
Mungkin karena kami kelelahan, saya sempat tertidur hingga akhirnya bangun kembali. Tiba di hotel Prof, ucapan terimakasih tak henti ku ucapkan sambil menunggu ojek online yang siap mengantar ku ke penginapan yang entah kamar saya no berapa hehehe. Oke cerita selanjutnya kita lanjutkan di kamar,
Eh.. maksudnya cerita tentang penginapan saya hehehe…… 
***
Setelah berpuas diri menikmati Candi Borobudur, saatnya kembali ke penginapan. Awalnya tidak berencana untuk menyewa penginapan dikarenakan sebelumnya saya menghubungi kakak senior yang kebetulan kuliah di Jogja yang katanya sudah menyediakan tempat, tapi selang beberapa hari keberangkatan beliau ada urusan diluar kota. Jadi terpaksa saya harus menginap sendiri, agak malu juga menerima tawaran dari temannya teman yang sebelumnya menawarkan untuk tinggal bersama meskipun beliau punya anak bayi. Tapi ya sudahlah mungkin belum rezeki. Kemudian saya mulai mencari penginapan yang cukup dekat dengan Royal Ambarukmo Hotel venue dari konferensi.
Beberapa kali searching di beberapa aplikasi, kebanyakan penginapan terdekat sudah penuh, mungkin sudah dibooking oleh peserta seminar yang jumlahnya barangkali ribuan ini. Dan akhirnya saya menemukan Setra House yang menurutku cukup aman dan nyaman. Setelah melihat beberapa review kemudian memantapkan hati untuk booking tempat tersebut. Setelah melihat gambar yang ada diwebsite setrahouse.com saya pikir worth it lah. Dan saya harus menerima tempat tidur yang deluxe double-bed itu. cukup luas untuk ukuran seperti saya apalagi juga sendiri. Tapi itu resiko karena kamar yang lain pada penuh semua. Dan setelah diberi kunci kamarnya yang terletak di lantai dua kamar paling ujung. Lumayanlah di depan kamar ada meja makan. Yang selama beberapa malam menginap disana selalu sepi. Kadang hanya saya yang makan disana. Tiga kursi lainnya hanya asik memandangi saya makan ayam geprek. Jadi Ayam geprek adalah makanan setia yang selalu mengisi perut saya ditiap malamnya. Letaknya persis diseberang penginapan saya. Awalnya saya tidak mengerti ini ayam geprek apa, tapi gambarnya saya lihat mirip Ayam Crispy seperti direstaurant gitu. Harganya juga lumayan murah. Rp. 15.000 sudah cukuplah untuk perut saya. Outletnya cukup ramai apalagi malam hari, banyak muda-mudi apalagi yang berpasangan duduk disana menikmati angin malam sambil makan ayam geprek. Geprek sebenarnya saya kurang paham ya, karena bahasa jawa jadi tidak terlalu mengerti. Kemarin juga ditanya ini itu, saya yes aja. Giliran tiba di kamar waduhh ini pedis sekali ya, lomboknya juga banyak. Hahhahahahah…… ternyata geprek itu maksudnya, ayam krsipisnya di ulek dengan lombok tapi tidak sampai hancur juga sih. Dan saya kurang perhatikan ternyata ada level pedisnya juga. Hahahahahahah…….. jadi misalnya tiga lombok yang di ulek pakai tomat sedikit dan ayam tentunya. Jadilah ayam geprek, malam berikutnya saya sudah tahu kalau pedas yang ini dan sedang yang itu. malu sendiri jadinya hehehehehe…….

Nah ini dia penampakan dari kamar saya kala itu, baru tiba langsung di foto karena bapak dan Ibu mau memastikan bahwa anak gadisnya ini menginap di tempat yang aman. Udah dulu ya….. capek nih nulisnya dari tadi subuh hihihi….. ceritanya masih berlanjut ya…. 


Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Hayo mau ngapain???