verbal bullying
My Story

Pengalaman Pernah Kena Perundungan Secara Verbal (Verbal Bullying)

Di social media sedang ramai bahas tentang perundungan (Bullying) dan teringat waktu aku pernah mengalami hal yang sama. Perundungan secara verbal rasanya lebih menyakitkan daripada secara fisik karena kata-katanya langsung menancap tajam ke hati. Sakit banget tapi gak berdarah, cara mengobatinya juga bingung dan akhirnya dipendam sendiri.

Perihal tentang perundungan sebenarnya dari SD-SMP aku udah sering mengalami. Teman aku sering bilang ke kalau aku ini bodoh padahal dia tahu peringkatku di kelas, kalau bicara suka kasar gitu jadi bawaannya sedih aja dan selalu menghindar kalau ketemu dia.

Akhirnya tumbuhlah aku menjadi anak yang sedikit banyak menutup diri dan hanya nyaman bicara sama yang benar-benar dekat sama aku jadi cuma beneran close friend aja yang bisa bikin nyaman waktu itu. Tapi, di SMA  ketemu dengan teman-teman yang respect banget bisa menerima sikap dan tingkah konyol kita akhirnya aku sedikit mulai terbuka sama orang lain.

Baca juga : Gara-Gara Cobek

Sebenarnya perundungan yang paling parah yang aku dapatkan itu adalah di masa-masa kuliah. Bukan hanya verbal bullying tapi cyber bullying juga pernah tapi kalau ini aku ceritakan yang verbal bullying saja next time kita cerita lagi tentang cyber bullying.

Kadang kita itu gak sadar niatnya bercanda tapi menyerang fisik seseorang. Aku gak sepenuhnya menyalahkan si perundung ini cuma mungkin karena waktu itu kondisinya lagi kurang tepat aja dengan suasana hati jadi bawa perasaan gitu.

Tapi, makin kesini kok makin keterlaluan ya dan hati ini udah gak bisa di ajak kompromi lagi dan akhirnya keluarlah air mata itu. Menangis tiap malam di sudut kamar sambil bercermin apa aku sejelek itu ya? Kok orang-orang tega amat ya ngomongnya kalau aku ini jelek dan bodoh.

Waktu itu ada teman yang bilang kalau aku ini kucel, dekil dan kumal pokoknya yang aneh-aneh sudah keluar dari mulutnya manisnya. Dan yang paling gak enaknya itu pas dia ngomong depan orang banyak. Malu gak? Iyalah bayangin aja malunya kayak apa. Parahnya lagi teman yang ngomong kayak gitu adalah cowok. Malu banget guys.

Baca juga : Penjual Kue Lolos Tes CPNS

Sejak saat itu aku gak berani keluar dan menampakkan diri di publik. Gak berani posting foto atau apapun, di ajak keluar alasannya sibuk. Gak pede dong guys karena dekil, kucel item gak terawat kek gini yang ada malah nanti aku bikin bahan untuk orang berghibah karena ke-dekil-an ini kan jadi mending gak usah.

Lama merenung bertanya ke dalam hati emang aku separah itu ya jeleknya. Beberapa bulan menghilang dari teman-teman dan gak ada yang nyari juga sih hehehe (pede banget ada yang nyariin hahaha). Jadi, aku mulai intropeksi diri dong karena mungkin aja apa yang dia katakan benar gitu kan. Aku memang harus merawat dan memerhatikan diri.

Lalu, aku membiarkan diriku membenarkan apa yang dia katakan. Iya aku memang dekil karena to be honest aku orangnya gak suka ribet apalagi soal perawatan, make up dan segala jenis perintilannya. Menghabiskan waktu aja gitu depan cermin harus duduk beberaa menit pakai ini dan itu. Sometime I have no enough time to do these things.

Waktu itu aku jadi ingat apa yang pernah tanteku bilang, kalau jadi perempuan harus rajin perawatan, badannya harus dirawat karena itu juga titipan dari Allah yang harus dijaga. Jleb . . . langsung menelan ludah.

Kesibukan dunia kampus dengan tugas-tugasnya, part-time job yang mengharuskanku meninggalkan kampus pukul 2 siang dan pulang jam 9 malam, serta beberapa organisasi yang membuat kesibukanku semakin membuncah akhirnya terabaikanlan proses perawatan diri itu tadi.

Akhirnya mulailah aku melirik beberapa jenis perawatan wajah dan juga badan tentunya. Mungkin kalau aku gak di bully kayak gini mugkin aku akan tenggalam dengan kesibukan yang tiada henti dan terus lupa diri.

Apakah setelah melakukan perawatan maka perundungan itu selesai? Ternyata enggak.

Baca Juga : Pengalaman Ikut Tes Uji Kemahiran Bahasa Indonesia

Bullying itu ternyata gak sampai disitu guys, setelah kasus ini muncul lagi kasus baru (Eh kok kayak covid ya, kasus baru muncul terus).

Mungkin kalau aku dekil dan kurang perawatan mungkin masih bisa di perbaiki dengan melakukan perawatan rutin misalnya, tapi perundungan kali ini meyerang bentuk fisik. Waduh!

Teman aku itu bilang kek gini ke aku, katanya dari wajah aku ini yang menarik cuma mata yang lainnya enggak. Hidung besar dan lubangnya juga besar mirip hidung babi katanya, terus alis tipisku ini hampir gak adasedikit lagi botak, terus warna kulitku juga gelap, dan pipiku chubby gak tirus jauh banget dari kata cantik. Ini yang ngomong cowok lagi, duh!

Kena mental dong aku, bagian ini gimana mau mengubahnya bentuknya udah begitu dari lahir, aku takut dong mengubah yang sudah jadi pemberian dari Allah SWT. Sedih? Iya pake banget.

Mungkin sebagian orang merasa ah lebay banget sih gitu aja ngambek. Duh, inginku berkata kasar. Pengen bilang, “Hey kondisi mental orang itu beda-beda, gak bisa disamakan semua. Mungkin sepele bagi Anda tapi belum tentu bagi orang lain”. Andai aku bisa berkata seperti itu waktu itu tapi hati sudah nge-down parah banget.

Baca juga : Dosen Baru ya?

Bayangin aja ada orang lain yang bukan siapa-siapa, sahabat bukan sauadara juga bukan tiba-tiba ngomong kayak gitu? Kalau sekarang dia ngomong kayak gitu aku balikin kata-kata dia “Emang situ seganteng apa sih tega amat ngomong kayak gitu ke cewek”. Tapi, waktu itu aku  sabar banget (baca: rapuh) anaknya jadi ya udah diem aja dan balik lagi gak berani muncul dipublik.

Mungkin ini yang dikatakan orang sebelum kita kalau lidah (ucapan) itu lebih tajam dari pedang karena bisa mengiris hati tapi gak berdarah sama sekali.

Ini yang paling parah dari kasus perundungan yang pernah aku alami. Makanya aku gak respect sama sekali dengan orang bercanda atau dengan sengaja menyerang fisik seseorang.

Aku kemudian memilih menyendiri sambil baca-baca buku motivasi, menulis sebagai salah satu bentuk self-healing aku dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT karena sesungghunya hanya Dia tempat kita kembali, hanya kepadaNya kita mengadu segala keresahan yang kita alami dihidup ini.Tapi, kalau sedang bahagia jangan jadi Atheis. Kadang kita kalau senang lupa Tuhan giliran dapat masalah baru ingat Tuhan #eh.

Kadang aku mikir begini, kenapa hidungku gak mancung ya, kenapa bentuknya seperti ini, kenapa kulitku warnanya begini? Kenapa pipiku seperti ini? Dan kenapa harus aku? Kenapa aku gak secantik Angelina Jolie misalnya kan, kenapa dan kenapa? Pertanyaan bodoh yang sering menghampiri pikiran ini.

Dari beberapa buku dan hasil perenungan yang aku dapatkan dan juga sharing ke beberapa teman. Hal itu kemudian mengajarkan aku untuk lebih mencintai diri sendiri menerima kekurangan diri dan banyak bersyukur serta mengurangi untuk menyalahkan diri sendiri. Tapi, itu tidak instan karena butuh waktu yang lama dan pergolakan batin yang hebat.

Belajar menerima diri sendiri itu gak mudah ternyata, prosesnya panjang dan ujiannya banyak. Kadang kita selalu ingin menjadi seperti orang lain tapi kita jarang memikirkan untuk menjadi diri kita sendiri.

Kita sering lupa bahwa diri kita itu istimewa tapi kita selalu membenarkan hal jelek yang dikataka orang tentang kita. Kita tidak mengenal diri kita sendiri jadi kita tidak tahu kemampuan dan hal hebat apa yang kita miliki.

Kita terlalu mengagungkan kelebihan orang lain hingga akhirnya kita lupa menerima kekerungan diri kita sendiri.

Dari peristiwa perundungan yang berulang kali ini banyak memberiku pelajaran untuk lebih sering berempati pada orang karena kita enggak pernah tahu apa yang dialaimi seseorang dalam hidupnya.

Persitiwa ini juga sekaligus bahan intropeksi diri kalau bercanda jangan keterlaluan karena hati orang siapa yang tahu, karena kita enggak tahu bahwa apa yang kita lakukan ke mereka itu bisa saja berdampak pada kondisi psikologis sesorang.

Karena perbedaan kondisi psikologis tadi maka tidak semua orang bisa pulih dengan cepat, ada yang butuh waktu yang lama ada juga yang sebentar. Tidak semua orang bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang dia alami.

Aku jadi ingat pernah baca bukunya Bapak Presiden ke 3 RI tapi lupa apa judulnya, katanya kedepannya nanti penyakit yang muncul itu tidak hanya tentang fisik tapi juga mental. Dan benar apa yang beliau katakan beberapa tahun yang lalu dan itu terjadi padaku.

Kesehatan mental yang kadang disepelekan orang banyak tanpa memikirkan dampaknya seperti apa. After all, aku cuma mau bilang yuk mari kita saling berEMPATI bukan hanya saling berSIMPATI.

Note: Teman-teman jika aku pernah menyakiti kalian melalui kata-kata mohon maaf ya. Hiks

12 Comments

  • Dedew

    Ya Allah punya teman kok toxic banget ya say tega amat walaupun maksudnya bercanda, tapi candaan fisik itu beneran bisa melukai orang hingga lama..harus dijauhi makhluk kayak gitu ya

  • Aqmarina - The Spice To My Travel

    Halo mbak Musdalifah.. aku bisa ngerti mbak tentang rasanya menjadi korban verbal bully, waktu itu aku dibully oleh teman SD yang aku pikir adalah teman baikku.. sampai sekarang pun masti teringat tentang pengalaman buruk tersebut padahal itu sudah terjadi belasan tahun yang lalu..
    Bener banget mbak, bully itu bisa membuat seseorang menjadi minder dan pastinya menutup diri.. salut banget sama mbak mus yang bisa bangkit dan bisa mengambil pelajaran 🙂

  • RoswitaPL

    Aku kok bacanya gemes ya… pengen nonjok temennya hehehe… Aku juga dulu ngalamin mba sampe sekarang malah. Karena aku orangnya kesannya ceria. Jadi mungkin mereka pikir aku ga masalah di hina fisiknya. Padahal hatiku rapuh kayak keripik kaca huhuhu… #malahcurcol

  • bening

    kalau aku mikirnya gini: duh, jangan2 aku juga pernah jadi pelaku verbal bullying ya, niatnya bercanda sama temen, engga sengaja, eh tapi hal yg kukira bercanda itu, ternyata menyakitkan. kalau memang demikian, aku pengen minta maaf atas kelakuanku itu.
    kalau dari sudut pandang korban, mungkin justru yg paling aku rasain dari ortu sih. ya, butuh proses untuk berdamai dengan verbal bullying ini. semoga nantinya enggak kulakukan pada anak-anakku

  • Indah Ladya

    Yap setuju sekali, bullying ini memang tidak bisa dibenarkan dalam hal apapun. Dan terkadang simpati memang belum cukup, butuh empati untuk saling menjaga kesehatan mental bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *