Makna Cinta dalam Rumah Tangga
(Dari sudut pandang seorang istri kedua)
By
Ippoet
Sebut saja namanya Shira (nama samaran) perempuan yang kukenal sejak delapan tahun yang lalu. Aku mengenal sosoknya yang ramah, perhatian dan juga peduli pada sesama. Awalnya aku belum tahu kalau dia adalah seorang istri kedua lalu aku memerhatikannya gerak-geriknya dari jauh. Aku hanya sesekali melihat suaminya datang itu pun kadang tidak lama, datang pagi dan malamnya pergi lagi. Kemudian aku berpikir masa iya sih istri ditinggal seperti itu, kenapa mereka tidak tinggal bersama? tapi aku berusaha untuk berpikir positif karena yang aku tahu suaminya orang yang kerja di proyek, “Mungkin dia sangat sibuk”, pikirku. Kadang kalau lagi cuti mereka ada di Makassar lalu kemudian pergi lagi setelah masa cutinya berakhir. Tanda tanya besar di kepalaku sejak tahun pertama tinggal di komplek ini adalah pasangan suami- istri ini tidak tinggal bersama. Namun, waktu menjawab semuanya, aku mengetahui bahwa dia adalah seorang istri kedua dari cerita-cerita tetangga yang beli sayur di pagi hari. Aku yang hanya bisa diam dan merekam dengan seksama lalu menyimpan informasi itu dengan sangat rapi di long-term memory. Ibu-ibu sekitar nampaknya memaklumi saja hal itu, mereka tidak mencibir juga tidak memaki seperti hal ini  sudah menjadi hal yang biasa. Sepertinya itu adalah rahasia umum yang aku seorang diri tak mengetahuinya. Sungguh kegiatan membeli sayur di pagi hari itu manfaatnya sangat luar biasa, kulit durian yang sudah terbuang di tong sampah pun akan tercium oleh Ibu-Ibu langganan sayur, bukan hanya mendapat sayur yang segar tapi infromasi yang segar dari mulut ibu-Ibu komplek juga bisa didapatkan.
Setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang istri kedu pikiran negatifku bermunculan. “Kok dia mau sih? Kok mau jadi istri kedua? Memang suaminya belum cerai dengan yang pertama? Ada apa dengan pernikahan suaminya yang pertama? Ada masalahkah?.” .Pikiran yang berkecamuk dikepala itu mulai menghantui kemana-mana. Tapi, dasar aku yang tidak pernah berani bertanya karena takut nanti dia tersinggung atau mungkin malah nanti jadi membenciku karena pertanyaan pribadi seperti itu. Lalu, pertanyaan itu kusimpan baik-baik hingga suatu siang aku terjebak pembicaraan dengan kak Shira yang ternyata memakan waktu cukup lama. Setelah sholat dhuhur matahari menyengat luar biasa yang memancingku untuk menyantap sesuatu yang segar-segar. Tidak lain dan tidak bukan hanya satu yang bisa melegakan tenggorakan di siang yang terik ini adalah sejenis makanan yang bernama Es Krim.  Keluarlah aku dari peraduanku untuk membeli beberapa potong es krim rasa jeruk, melon, durian dan semangka. Setelah memberi es krim ke tetangga sebelah aku melihat kak Shira duduk sendiri lalu kemudian aku mengampirinya dan menawarkan es krim yang kubeli tadi.
“Kak, makan es krim yuk, aku masih punya beberapa ini?.” kataku 
“Enggak ah aku takut flu soalnya mau ke luar pulau jadi mau rapid test dulu, nanti aku di vonis corona” jelasnya
“Oh gitu, emang berangkatnya kapan kak?,” kataku sambil menyantap es krim rasa jeruk
“Minggu depan sih Insya Allah,” jelasnya lagi
“Bikin apa kak disana?, ” tanyaku lagi
“Ya… ikut sama suami sekalian kerja juga kan
“Oh iya ya,” jawabku baru ingat kalau memang dia dan suami sering keluar kota bersama untuk pekerjaan proyek mereka.
 Kami bercerita banyak juga tentang kenapa aku masih sendiri sampai sekarang karena dia tidak pernah melihatku di jemput atau di antar oleh seseorang kecuali abang grab.
“Memang bagus sih kalau kita dirumah terus cuma kan sesekali boleh keluar ke mall misalnya atau di ajak makan sama doinya ya jangan menolak” sarannya karena sering melihatku berdiam diri dirumah sepanjang hari. Mungkin dia gak tahu kalau saya lagi dirumah itu sedang isi baterai supaya ada tenaga kalau lagi keluar dan bertemu dengan orang banyak, that’s introvert life.
 “Ya kalau ada yang dekat sesekali di pancing gitu di ajak keluar makan sama-sama,” lanjutnya lagi
“Duh… kak kayak gak tau aku aja, keluar rumah aja jarang banget gimana mau ngajakin orang keluar, cowok lagi. Adduhh… gak ada bakat saya”
“Ya se-enggaknya kan di ajak, kalau mau ya bagus kalau enggak ya kan gak apa-apa namanya juga usaha”
“Hehehe aku takut di tolak kak, heheheh lagian kan sekarang pandemic kak, gak boleh keluar-keluar,”
“Ya.. nanti kalau selesai pandemic di ajak doi-nya keluar jalan, makan dimana gitu msalnya”
“Hehehe” senyum lalu berusaha menghindari bola mata kak Shira
“Ya .. nanti kalau sudah punya cowok jangan menolak kalau diajak keluar makan supaya kamu juga tahu bagaimana dia, kalau dia ngajakin kamu keluar artinya dia gak malu jalan sama kamu. Karena kalau dia keluar artinya dia siap bertemu siapa saja diluar sana dan dia sudah siap mengenalkan kamu ke temannya kalau misalnya kebetulan ketemu temannya di luar kan, itu artinya kamu penting bagi dia. Apalagi kalau dia sudah mengenalkan kamu dengan saudara dan keluarganya pasti serius itu.” jelasnya
“Oh gitu ya kak , hehehe. ” jawabku tersenyum sambil bicara dalam hati, “duh kakak ini kayaknya gak tahu aku punya pengalaman hidup apa saya soal beginian. Kalau dikenalin sama orang tua mah udah pernah tapi ujung-ujungnya ya gitu deh. Makanya yang kaya gitu jadi bikin parno nanti bakal sama kejadiannya sama yang kemarin”.
“Kamu harus tahu juga tentang kehidupan dia bagaimana di luar sana, zaman sekarang agak susah cari yang lurus-lurus saja. Ustadz saja manusia. ” katanya melirikku tajam.
“Heh, gimana tu kak maksudnya kalimat terakhir itu.” tanyaku penuh rasa penasaran
“Ya.. seperti teman suami saya yang di proyek itu. Biasa kan kalau orang proyek itu identik dengan kehidupan malam. Nah, ada teman suami saya itu yang mirip ustadz karena sering pake kopiah kan ya setelah selesai kerja dia taruh kopiahnya dirumah terus ke tempat karaoke seru-seruan sama teman-teman kantornya atau kemana-mana gitu. Saya kan biasa ikut sama suami model kayak gitu aja masih sering belok-belok gimana yang setengah-setengah ustad”
“Eh.. .” kataku masih heran
“Iya jadi  suamiku itu kan biasa kalau karokean begitu dia biasa minum bir temannya kan biasa ikut temannya juga, dan dia kalau minum bir sedikit saja dia langsung mabuk padahal sudah nambah es batu yang banyak. Pernah sekali dia mabuk seperti itu makanya dia nginap di kamar yang didalam ruangan karaoke untung ada teman-temannya yang menemani, coba aja temannya menelpon ke aku pasti aku jemput dia pulang,”
“Suamiku itu aku bebaskan ngapain aja misalnya karoakean tapi ada syaratnya yaitu tempat karaokennya bukan yang ada kamar dalamnya”. Lanjutnya
“Gimana sih kak maksudnya tempat karaoke ada kamar dalamnya gitu? Emang ada, ” tanyaku lagi sambil menghabiskan es krim rasa semangka yang ada di tanganku
Lah memang ada kan, kalau kehidupan malam mahaku sudah biasa. Ada beberapa tempat memang punya kamar dalam seperti itu, biasanya mereka booking cewek juga disitu.” jelasnya
“Heh…”aku menolah ke arahnya kaget
“Iya, beberapa tempat seperti itu kecuali rumah bernyanyi beda lagi itu. Makanya kalau punya cowok itu harus tahu teman-temannya siapa supaya bisa tahu lingkungannya seperti apa kan kita gak tau dia ngapain aja di belakang kita kan? Jadi, ya sekarang itu memang agak susah dapat yang lurus-lurus aja, ada saja bengkoknya sedikit seperti temannya suamiku itu”
Aku hanya bisa menelan ludah. Dia pun lanjut bercerita tentang kehidupan malam yang pernah dia jejali. Darinya juga aku jadi tahu sedikit tentang kehidupan di bawah lampu kerlap kerlip di luar sana.
“Saya itu tidak pernah mau mengekang suami karena saya tahu dia orangnya keras tidak suka berdebat. Jadi, kadang kalau dia marah ya aku diam saja beda dengan Ibu (Istri pertama). Kalau sama Ibu itu bapak bertengkar terus dan Ibu juga tidak mau mengalah jadi ya sudah”ceritanya
“Kak, pernah ketemu sama si Ibu itu?.” tanyaku penasaran
“Pernah sih tapi dia melihatku dari jauh, itu pun cuma teman aku yang ngasi tahu, kalau ada istrinya disana sedang melihatku”
“Jadi, gimana kak ceritanya, kakak di labrak atau gimana ?.” aku makin penasaran mencari tahu tentang kehidupan rumah tangga orang.
“Enggak sih, katanya dia cuma bilang Oh.. pantas kamu cari lagi karena sudah ada yang mengurus kamu, aku tahu itu dari temanku karena dia mendengar Ibu ngomong begitu katanya,” lanjutnya
“Kalau anak-anaknya suami kakak pernah ketemu juga? Mereka gak marah  kayak di TV itu?,”
“Pernah, saya pernah ketemu di Surabaya dan dia gakmarah-marah. Biasa aja karena mungkin mereka sudah mengerti kan sudah dewasa semua”
“Suamiku itu punya empat anak, 1 laki-laki dan yang lain perempuan. Dua sudah menikah yang lain belum, Ada satu cewek yang gakbisa sama sekali masak makanya kemarin waktu dia mau menikah calon suaminya itu ditanya baik-baik sama suamiku dia sanggup tidak terima anaknya karena anaknya ini gak bisa masak sama sekali masak airpun kadang kering, jadi kalau dia bisa menerima anaknya yah ok dan kalau uangnya tidak cukup nanti suami saya yang tambah asal dia mau mnerima anak suamiku dengan kondisi seperti itu, yang gakbisa masak aja laku masa yang bisa masak kayak kamu belum laku, heheheh bercanda.”
Aku kembali menelan ludah.
“Kak, kenapa suaminya gak pisah aja sih dari istri yang pertama , itu ceritanya gimana sih?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan
“Jadi , begini….”

bersambung…


*Tulisan ini berdasarkan percakapan singkat saya dengan seseorang yang kukenal di suatu siang yang terik. Sosok yang kukenal beberapa tahun terakhir setelah percakapan di siang itu kami jadi lebih dekat dan dia banyak memberikan nasehat untukku. 

Share and Enjoy !

0Shares
0

You might also enjoy:

0Shares
0