Thought

Kita Punya Batas Kesanggupan Masing-Masing, Bijaklah!

Ada cerita dari teman saya katanya dia kehilangan uang 100K. Teman saya yang lainnya nyeletuk

“Alaaaaaaaahhhhhhhhhh… gitu aja galau”

Cerita yang lain ada yang sedang patah hati ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, lalu teman saya nyeletuk lagi

“Ah . . . gitu aja pusing amat, tinggal cari yang lain kan beres, lebay kamu”

Dan teman yang lainnya sedang asik menyantap ubi goreng dengan sambal terasi dan spontan berteriak karena ternyata sambalnya pedis sekali.

“Cabe 5 biji aja pedis, ah lebay kamu. Segitu mah gak ada apa-apanya”

***

Mungkin selembar kertas bernilai 100K tidak berarti apa-apa bagi kita tapi bagi orang lain itu sangat berharga karena untuk mendapatkannya butuh perjuangan yang berarti.

Sebagian orang yang belum pernah jatuh cinta dan patah hati mungkin menganggap orang yang menangis karena patah hati adalah sesuatu hal yang lebay padahal setiap kondisi jiwa seseorang itu berbeda-beda. Bentuk penerimaan seiap luka yang dia terima juga pasti berbeda.

Ada yang tidak terbiasa makan makanan pedas, cabe sebiji aja pedis terasa sampai ke ubun-ubun. Tapi, bagi yang sudah sering mengonsumsi makanan pedas bahkan mungkin tiap hari cabe 5 biji gak ada apa-apanya buat mereka.

Kita terkadang mengukur kemampuan seseorang dengan ukuran yang kita punya. Kita mengukur kapasitas seseorang dengan ukuran kapasitas diri kita.

Kita menimbang menggunakan kilogram sedangkan orang lain menggunakan ons. Terlihat sedikit untuk kilogram tapi sudah berat bagi ukuran ons.

Setiap dari kita punya batas kapasitas masing-masing. Bagi kita mungkin mudah tapi bagi orang lain belum tentu. Bagi kita mungkin itu lebay dan menggelikan tapi bagi orang lain itu sangat berat.

Mungkin kita sering bercanda dengan seorang teman, bercengkrama dengan hal-hal konyol dan tanpa sadar kita sedang menyinggung perasaanya. Bagi kita mungkin bercanda tapi baginya hal itu bukanlah lelucon.

Setiap dari kita punya kondisi jiwa yang berbeda, pengalaman hidup yang pernah kita alami juga berbeda dan tentu bentuk penerimaan kita atas sebuah masalah juga akan berbeda dan cara penyelesaiannya pun tentu berbeda.

Sadar atau enggak kita menganggap hal ini biasa dan remeh tapi kita tidak pernah berpikir bahwa ini berdampak bagi kondisi psikologis seseorang.

Kita sering mengabaikan perihal mental ini karena menganggapnya biasa saja. Padahal seseorang bisa saja terlihat baik-baik saja secara fisik namun mentalnya ambruk.

Ada yang mengeluh kita menganggapnya lebay, ada yang sedih langsung update status kita langsung menghakiminya lebay. Padahal sebenarnya mereka butuh teman mereka butuh tempat untuk berbagi kesedihan mereka hanya butuh didengarkan tanpa meminta kita untuk menyelesaikan masalahnya.

Ada yang sanggup menyimpan air matanya dalam diam lalu tumpah ketika dikamar sendirian. Ada juga yang merasa lega ketika bercerita dengan orang yang dia percaya sambil menumpahkan air mata di pundak sahabatnya.

Ada yang sanggup menyimpan sedihnya sampai masalahnya kelar baru berbagi cerita. Ada juga yang merasa lega ketika berteriak sepuas tenaga di pinggir pantai, memaki tanpa peduli orang disekitarnya.

Kita semua punya batas kesanggupan masing-masing. Ada yang sanggup makan 5 cabe sekaligus, ada yang setengah biji aja pedisnya minta ampun. Ada yang sanggup menahan diri untuk tidak mengeluh disosmed ada juga yang merasa lega ketika masalahnya diumbar disosmed meskipun itu tidak bisa menyelesaikan sebuah problem.

Begitu juga dengan kehidupan yang tengah kita jalani. Pengalaman hidup yang kita alami tidak sama dengan orang disamping kita, tidak sama dengan sahabat kita atau orang sekitar kita.

Respon yang kita berikan terhadap hal yang menimpa kita juga akan berbeda-beda. Jadi, kita tidak bisa menyamakan kesangguan kita dengan kapasitas orang lain. Maka, bijaklah menanggapi tanpa menggurui.

Baca yang benar, dengar dan pahami terlebh dahulu sebelum menghakimi. Karena mulut dan jari kita ini terlalu mudah untuk memberi label pada seseorang. Tanpa sadar bahwa semua yang kita lakukan, sekecil apapun akan dimintai pertanggungjawabannya.

Maka, Bijaklah!

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan,” (Qs. Yasin : 65).

37 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Hayo mau ngapain???