Fiction

Kita pernah…

Photo by ilham akbar fauzi on Unsplash

Kita pernah…

By

Ippoet

Dulu, kita pernah berbagi cerita tentang kehidupan. Cerita yang membuat kita larut dalam waktu. Dulu, kita pernah berbagi tawa disudut ruangan. Kita pernah duduk bersama menikmati mentari pagi disela-sela rehat kerja. Kita pernah ada di meja yang sama untuk menikmati santap siang, ada di aula yang sama untuk menikmati drama. Kita pernah ada di momen yang sama.


Namun, semua itu berakhir ketika kau meminta lebih dari itu. Kau meminta untuk selalu ada di waktu senggangku, kau meminta untuk selalu ada di kepalaku untuk selalu ada di mataku. Kau terlalu banyak meminta aku takut kelak kau terlalu banyak menuntut. Diam membisu adalah salah satu cara yang bisa kulakukan. Tak mampu berkata sepatah katapun, entah harus mengatakan apa dengan pintamu itu. Aku tidak menolak juga tidak menerima pintamu. Bukankah kau tahu sebagian dari kisah hidupku, sebagian kisah patah hati yang tak kunjung usai ini. Dan kau pun paham betul bahwa aku belum siap untuk menerima orang baru. Aku belum siap dengan segala konsekuensi yang harus aku terima. Aku belum siap dengan segala keruwetan yang pernah membawaku jauh dari keluarga, jauh dari sahabatku bahkan jauh dari Tuhanku. Tapi, disudut hati terdalam rasa ini berontak di dalam sana. Ingin keluar setelah sekian tahun terkurung di dalam. Aku bisa apa? Benteng pertahanan logika masih terlalu kuat untuk diruntuhkan. Kecuali kau bisa masuk dari pintu lain atau membangun pintu baru untukmu masuk ke dalam menyelamatkan rasa yang kian hari semakin menyesakkan dada.


Tapi, kini semua telah berubah, tatapmu tak sehangat dulu lagi. Ada kaku yang menyelimuti obrolan pagi ini. Apakah jarak benar-benar membawa raga dan batin kita terpisah terlalu jauh? Padahal kita pernah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version