flash fiction
Fiction

Kita Ini Apa?

Aku masih duduk termenung tak berani menatapnya. Sejak tadi tanganku saling menggenggam, bibir mengatup rapat tak mampu berucap sepatah kata.

Air mata jatuh tak bisa lagi kutahan. Hujan malam ini terlalu dalam menusuk sukma. Diam kita menjadi beku, jika kisah ini harus berakhir malam ini. Lantas aku bisa apa?

***

Ndi’, dimana ki ?”, suara itu selalu membangunkan aku di pagi hari dan menjadi pengantar tidurku.

“Di Kosan Deng, kenapa ki ?”, kataku

“ Ayo pergi makan coto, lama ki dag pernah makan daging ini” katanya

Iye pale, dari mana ki ini?” tanyaku penasaran

“Dari ka bandara ini Ndi’ ” jawabnya

“Eh, Jauh ta itu kesini Deng, na ada ji penjual coto dekat sana Deng” kataku heran

“Siap-siap mi ki dekat ma ini” katanya lalu menutup telepon

Dia jauh-jauh datang ke tempatku hanya untuk makan Coto bareng padahal di daerah sekitar sana banyak di pinggir jalan. Kami selalu seperti ini, makan bareng, belanja baju bareng, ke acara keluarganya aku di ajak, di kenalin ke teman-teman kuliahnya juga. Iya kami sedekat itu.

Hubungan yang membuat aku nyaman tanpa peduli tentang status hubungan ini. Kami sering bertukar cerita dan berbagi masalah, kami ngobrol juga nyambung. Teman-temanya mengira kami ini berpacaran tapi ketika ditanya dia hanya tersenyum dan aku selalu mengelak ketika pertanyaan yang sama ditujukan kepadaku.

Keluarga pun sudah tahu kalau kita dekat entah itu dalam artian apa, adik-adiknya sperti adik sendiri, begitu pun dengan mereka dengan aku. Kami biasa bercengkrama bersama bercerita lama sampai lupa waktu.

Sejujurnya, aku juga bingung menjawabnya apa tapi aku jalani saja dulu karena kita hanya berteman. Sampai suatu ketika membuatku berpikir, mungkin di antara kita ini lebih dari sekadar teman.

Deng

Pesan BBM singkat itu meluncur ke ponselnya, tak menunggu lama dia langsung menelpon. Aku tak perlu menjelaskan banyak apa makna kata singkat itu. Chemstry yang kita bangun selama kurang lebih dua tahun terakhir ini membuat kita sudah saling mengerti kode dan harus bertindak bagaimana.

Siang itu kecelakaan kecil membuat luka di kakiku, beberapa orang meminggirkan motorku dan juga memberiku air minum di tepi jalan. Dari jauh mobilnya sudah keliatan, dia menghampiriku dan mengangkatku masuk ke dalam mobil.

Kuperhatikan pakaiannya seadanya saja dan sendal jepit merah sebelah kanan dan hijau sebelah kiri. Keliatan kalau dia panik menerima pesan singkatku.

Setiap hari dia datang mengganti perban di kakiku ini, setiap pagi dia membawa bubur ayam dengan senyuman manisnya. Malam tak pernah berlalu tanpa nyanyian rindunya. Bagaimana aku mengabaikan perasaan ini? Bagaimana tidak runtuh benteng persahabatan yang selama ini aku bangun? Rasa yang selama ini aku hindari akhirnya datang juga menghampiri.

***

“Jadi selama ini kita apa Deng?” tanyaku tanpa berani menatapnya

“Kita ini Kakak-Adek to Ndi’ ?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version