My Story

Gara-Gara Memberi

Share and Enjoy !

0
0Shares
Gara-Gara Memberi
Oleh : Musdalifah Mansur

Hari itu pukul 2 siang waktu Indonesia Tengah (WITA). Matahari bersinar terik membuat penduduk enggan untuk keluar menyapa sang matahari. Kala itu saya ke kantor temannya saya di salah satu gedung pencakar langit yang ada di Makassar. Dia memintaku untuk menemaninya ke salah satu toko elektronik yang ada di Kota Daeng. Keinginannya untuk membeli flash drive membuat kami harus keluar dari ruangan ber-AC merasakan terikya matahari. Tiba di gedung yang dimaksud, saya langsung ke lantai dua tempat dia bekerja. Setelah meminta izin ke atasannya untuk keluar sebentar kami bergegas ke basement di sana motor saya menunggu. Sebelum berangkat kami bercakap-cakap sejenak. Tiba-tiba ada dua orang mahasiswa menyapa kami sambil menawarkan jualannya. Mereka adalah mahasiswa yang tengah mencari dana untuk kegiatannya dengan menjual sejumlah makanan, keuntungan dari penjualan tersebut akan mereka gunakan untuk kegiatan di kampus. Sebagai seorang yang pernah bergelut di organisasi kampus sangat paham dengan kondisi seperti ini. Sedikit berbasi-basi dengan  bertanya jurusan dan untuk kegiatan apa mereka melakukan penggalangan dana. Temanku yang disodorkan jajanan itu sedikit mengernyitkan keningnya sambil menggerutu dan enggan mengeluarkan beberapa lembar rupiahnya. Karena kasian saya memberinya lembar Rp. 5000  sebagai gantinya satu kotak salad buah jatuh ke tanganku.
Picture Source From : https://www.pexels.com/photo/man-holding-brown-leather-bi-fold-wallet-with-money-in-it-1435192/

Kemudian kami berangkat ke toko elektronik yang jaraknya tidak jauh dari kantor temanku. Setelah memastikan tak ada yang ketinggalan motorku melaju cukup cepat kadang juga kupelankan kecepatannya jika temanku mengajakku ngobrol dari belakang. Perjalanan cukup santai dan tidak ada hambatan. Tiba-tiba terdengar teriakan teman saya dari belakang. Awalnya saya santai saja karena pikirku mungkin dia bercanda, tapi teriakannya mulai aneh dan saya menolah kebelakang . Sungguh betapa kagetnya ketika melihat tangan teman saya sedang berusaha  menarik tasnya yang juga dirampas oleh penumpang motor didekat kami. Mereka berdua saling adu tarik dan mataku saling adu pandang dengan seorang yang tengah memegang kemudi motor itu. Mata kami bertemu saling menatap tajam (untung tidak saling jatuh cinta #eh). Mereka berdua memakai pakaian serba hitam dan juga mengenakan topeng, hanya matanya saja yang kelihatan. Motornya warna hijau, lupa mereknya apa. Setelah mataku bertemu dengan mata pemilik motor yang tengah memepeti kami, kemudian saya berusaha untuk bagaimana bertahan dari kedua pembegal ini. Tanganku yang tengah menarik gas dan kaki kananku juga berusaha menendang motor mereka supaya mereka terjatuh. Tapi, berulang kali mencoba tak juga berhasil mungkin karena saya memakai rok jadi tendangannya kurang keras. Teman saya ini terus saja berteriak dibelakan,  sepertinya dia sudah tidak kuat adu kekuatan dengan penumpang sepeda motor itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk menyentakkan motorku ke kiri yang sejak tadi terpepet oleh otor si pembegal. Alhasil,  motor saya jatuh kekiri dan saya pun dengan sigap melompat dan lupa kalau saya punya teman dibagian belakang. Temanku hanya bisa merintih kesakitan tertindih motor. Pembegal itu pun kabur tak sempat mengambil apa-apa dari kami. Dan untungnya kami berdua masih selamat. Temanku meringis kesakitan karena tak mampu berdiri dan berjalan dengan normal. Orang-orang sekitar mulai berdatangan melihat kondisi kami, ada yang memberikan air minum ada juga yang bertanya tentang kronologis kejadian yang kami alami.
Saya tidak tahu jika tas yang menjadi objek rampasan ini tadi berisi uang sekitar lima juta dan satu notebook, Alhamdulillah  betapa bersyukurnya saya karena masih sempat diselamatkan dan saya pun tidak terluka apa-apa. Kami berdua kembali ke kantor, Temanku dibantu oleh warga sekitar untuk naik ke motor saya karena tidak bisa berjalan sendiri. Setelah meninggalkan lokasi kejadian sekitra beberapa meter tiba-tiba mobil putih berhenti didepan kami. Kaget bukan kepayang, jangan-jangan kami mau dibegal lagi, piker kami berdua kala itu. Tapi, pemikiran itu berubah ketika seorang lelaki muda, ganteng dan putih bersih juga rapi menghampiri kami. Dia mengajak kami mengobrol dan bertanya tentang kronologis kejadian. Dia adalah salah satu pihak yang berwajib yang kebetulan tidak mengenakan seragam. Saya tak bisa ngomong apa-apa hanya temanku yang menjawab pertanyaannya, saya salah fokus duluan dengan wajah gantengnya. Selepas mereka berdua mengobrol saya berbisik ke Inna “Gantengnya”bisikku. Temanku membalas “Betul, saya saja yang sudah nikah masih tertarik”. Kami berdua tertawa kecil sekadar menghibur dari lepas d ari kejadian yang menyeramkan itu tadi.
Tiba dirumah saya kemudian merenung tentang kejadian yang menimpa kami. Alhamdulillah saya tidak apa-apa tapi teman saya terluka bahkan kabarnya dia tak bisa berjalan normal sebulan lamanya. Äpakah ini gara-gara memberi selembar lima ribu rupiah?” pikirku. “Apakah ini yang dikatakan orang bahwa sedekah itu menghindarkan kita dari mala-petaka?”tanyaku pada diri sendiri.  
Dari Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah saw, bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi (mendahului) sedekah”.
 “Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (virtiligo)” (HR Thabrani).
“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.”(HR. Imam Baihaqi)
Kemudian saya teringat pada Surah Al Baqarah ayat 195 Allah SWT Berfirman “Dan berinfaklah kamu (bersedekah atau nafkah) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.  

Banyak sekali anjuran yang disebutkan oleh Allah SWT tentag sedekah dan hal itu juga dilakukan oleh orang-orang pendahulu kita. Bersedekah tidak akan membuat kita kekurangan seperti yang disebutkan dalam Surah Al Baqarah ayat 261 yang artinya “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji, Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Sangat jelas ayat di atas bahwa apa yang kita keluarkan akan dilipat gandakan oleh Allah jadi #JanganTakutMemberi. Banyak hal yang bisa kita sedekahkan mulai dari materi maupun non-materi bahkan sekadar senyum saja kita sudah bersedekah. Salah satu lembaga yang menerima sedekah kita untuk selanjutnya diteruskan ke yang membutuhkan  adalah www.dompetdhuafa.org  . Kebetulan tempat saya dekat dengan kantor Dompet Dhuafa yang di Makassar. Waktu itu saya dan teman-teman sempat kebingungan bagaimana cara menyalurkan bantuan kepada teman-teman korban gempa yang ada di Palu. Dalam perjalanan kerumah teman dalam rangka mengumpulkan sedekah, saya menoleh ke kiri melihat ada Kantor Dompet Dhuafa. Kemudian saya dan teman belok ke Ruko yang dimaksud. Kami disambut hangat oleh petugas Dompet Dhuafa Makassar. Kalau tidak salah hari itu kebetulan hari libur, kami pikir libur karena pintunya terbuka sedikit saja. Tapi, mereka menerima kami dengan sangat ramah. 
Kemudian kami menyerahkan beberapa baju bekas untuk saudara-saudara kami yang di Palu untuk diberikan kepadanya. Petugas Dompet Dhuafa Makassar memberikan penjelasan sedikit terkait proses penyaluran sedekah. Ini kali pertama memberikan bantuan melalui Dompet Dhuafa jadi saya agak sedikit banyak bertanya tentang ini dan itu dan juga takut kalau sumbangannya tidak jatuh ke tangan yang tepat. Tapi, petugas meyakinkan kami kemudian menyerahkan bukti santunan berupa selembar kertas. Namun, sebelumnya petugas Dompet Dhuafa mengajak kami berdoa untuk saudara-saudara di Palu dan semoga teman-teman yang memberikan santunan ini memperoleh pahala yang setimpal. Waktu itu aku merinding, entahlah tapi rasanya betul-betul seperti menyerahkan sedekah ini langsung kepada saudara kami dan kami berdoa dengan hikmad. Di hari itu juga saya baru tahu kalau untuk berdonasi bisa dengan sistem online.

Di zaman era digital saat ini hampir semua aktivitas manusia serba digital. Dompet Dhuafa ternyata lihai melihat hal ini. Pihak Dompet Dhuafa sangat membantu mereka yang ingin bersedekah namun terkendala oleh banyak hal. Dengan begitu donasi untuk kaum Dhuafa bisa online dengan mengklik donasi.dompetdhuafa.org. Jadi, akan lebih mudah memberikan donasi tanpa ribet, melalui smartphone kita pun bisa langsung memberikan donasi sesuai dengan yang diinginkan.
Lantas, apa yang membuat kita takut untuk bersedekah? 
#JanganTakutBerbagi #SayaBerbagiSayaBahagia
     “Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Share and Enjoy !

0
0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *