maxim-medvedev-66jaAs-hiks-unsplash

Tanpa Nama

oleh

Ippoet


“Jika kau berniat untuk masuk, masuklah. Jika kau ingin keluar maka keluarlah. Tapi, jangan berdiri di depan pintu karena kau menghalangi jalan”

Mungkin  ini perasaanku saja tapi ini sudah terlalu lama. Sembilan bulan itu waktu yang cukup untuk berpikir, seperti ibu yang tengah mengandung mungkin ini adalah hari dimana aku akan melahirkan. Tapi, nyatanya bukan! Apa yang kupendam ini tentang rasaku padamu tak bisa lagi kubendung. Sama halnya denganmu, iyakan? Jangan mencoba untuk membohongi apa yang ada di hatimu. Aku tahu itu dari sorot matamu juga tingkahmu yang aneh itu. Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya kita simpan ini, karena kita terjebak pada kata “sahabat” jadi kita lebih memilih untuk diam.Tapi, kita sudah mendiamkan ini sekian purnama tak jua ketemu titik akhirnya. Kita sengaja menjebak diri kita pada situasi ini dan kalau kita mau hal ini bisa berakhir dengan baik. Tapi, kita memilih untuk berjarak sementara waktu. Merenung apakah benar yang kita rasakan sperti yang kita harapkan atau perasaan ini muncul hanya karena kita senasib saja?.  Anggap saja seperti itu. Kali ini biarkan aku berhenti disini, karena berjuang sendiri ternyata melelahkan. Berulang kali kau menghindari pertanyaanku, tidak jarang juga kau menghindari panggilanku. Katakan padaku inikah yang kau inginkan? . Kalau memang kita tidak apa-apa kenapa kita jadi kaku seperti ini? Tidak bisa tertawa lepas seperti dulu, tidak bisa bercerita sepuasnya seperti kemarin dan kita tidak bisa lagi saling membagi rahasia.

“Sungguh ini sangat tidak dewasa wahai Adrian Pradiatma”, tegasku. Dari awal aku sudah bilang ke kamu, bukannya aku tidak mau sahabatan tapi bersahabat dengan kamu itu membuat aku takut. Akhirnya, ketakutanku menjadi nyata seperti sekarang ini. Biarkan aku mengakhiri ini semua, meskipun ini bukan aku yang mulai.

Cuaca panas di luar sana tak mampu mencairkan beku yang yang sejak kemarin hadir di antara kita. Ada apa dengan kita? Tak sepatah pun hadir darimu, diam tanpa berani memandang ke arahku. Sejak tadi kau hanya memandangi kopi hitam pekat yang tak lagi hangat seperti hatimu yang mulai berbeda. Permintaanku sederhana, aku hanya memintamu menamai hubungan kita yang sudah sejak setahun terakhir kita jalani. Agar aku tahu bagaimana aku harus bersikap , bagaimana aku harus menanggapi perhatianmu yang berlebihan itu. Aku hanya meminta alasan dari semua sikapmu yang mulai tak lagi sama. Aku hanya meminta alasanmu datang kerumah tengah malam diguyur hujan membawa sebuah kue tart yang tak lagi utuh lengkap dengan balonnya sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku hanya memintamu memberikan alasan mengapa kau selalu disampingku ketika aku tengah terbaring lemah di ruangan serba putih itu. Aku hanya ingin tahu alasanmu selalu menungguku pulang kerja lalu mengajakku menikmati the hangat dan pisang goreng di pinggir jalan. Aku hanya ingin tahu alasanmu mengajakku keliling pusat perbelanjaan hanya untuk membeli setelan jas untuk promosi jabatanmu. Aku tidak bisa bertahan hidup dengan sikapmu yang penuh tanda tanya. Aku bukan peramal yang bisa tahu semua isi kepalamu, langkahmu selanjutnya apa atau apa yang tengah kamu pikirkan sungguh aku tidak tahu. Sejak tadi kau hanya diam didepanku tapi kau tak bisa diam melihatku menangis. Katakan padaku apa maksud ini semua?. Bantu aku dengan membuat semua ini jelas, katakan padaku apa yang kau inginkan dan kemana hubungan ini akan bermuara?

Share and Enjoy !

0Shares
0

You might also enjoy:

0Shares
0