My Story

Dosen baru ya?

Share and Enjoy !

0
0Shares

Dosen baru ya?
oleh
Musdalifah Mansur

Menjadi seorang dosen mungkin menjadi mimpi yang luar biasa bagi sebagian orang juga bagiku karena itu adalah cita-cita saya sedari menginjakkan kaki di kota ini. Butuh waktu dan belajar banyak serta banyak belajar dari dosen-deosn hebat. Hematku, bukan hanya kemampuan akademik saja tetapi kemampuan mengolah emosi juga harus saya pelajari. Kemampuan mengolah emosi dalam berbagai situasi menjadi hal yang sangat urgen. Mengapa saya berkata demikian? Karena saya belajar dari pengalaman dimana mengolah emosi itu adalah sebuah keahlian tersendiri yang harus dimiliki.
Beberapa waktu lalu saya menjadi salah satu pengajar di salah satu kampus yang ada di kota ini. Setelah menebar lamaran  ke beberapa kampus selama beberapa tahun tidak ada satu pun yang berhasil lolos kecuali . Akhirnya, saya diterima di salah satu kampus dengan mudah tanpa melalui proses seleksi terlebih dahulu. Waktu itu teman saya menginformasikan bahwa kampus tersebut sedang butuh tenaga pengajar dan dia memberiku kontak untuk segera menghubungi nomor yang tertera. Tak lama seorang ibu menjawab telepon saya dan mengarahkan untuk membawa segera lamaran saya ke alamat kampus yang telah beliau sampaikan. Tak berselang berapa lama tibalah saya di kampus yang dimaksud. Tak banyak yang kami bicarakan, hanya perihal jadwal bahwa minggu depan saya akan memulai pembelajaran dikelas.
Satu semester berjalan dengan sangat baik. Sama sekali tidak ada kendala sampai sejauh ini. Dosen-dosen di sana pun sangat ramah dan kami sering bercengkrama bersama. Tetapi, berbeda dengan semester berikutnya. Di awal semester genap, jadwal sudah ditentukan lengkap dengan ruangan tempat saya akan mengajar seperti semester kemarin. Akhirnya tibalah jadwal mengajar saya kemudian masuklah saya ke ruangan yang tertera dan di dalam ternyata sudah ada mahasiswa. Saya pikir itu adalah mahasiswa yang akan saya ajar ternyata bukan, kemudian saya bertanya kepada mereka terkait ruangan ini. Jadwal mereka ternyata sama dengan jadwal yang saya terima tetapi mereka dari jurusan yang berbeda. Saya pikir mungin ada kesalahpahaman, kemudian saya ke lobi mencoba untuk mengecek kembali jadwal yang saya terima dengan jadwal yang tertera di papan info dan tidak ada kesalahan, memang benar bahwa jadwal saya adalah hari ini di ruangan A pada pukul 09.00 WITA. Ini adalah awal semester, jadi saya belum tahu nomor HP mahasiswa yang akan saya ajar untuk sekadar mencocokkan jadwal dengan yang saya terima. Tiba-tiba disamping saya seorang dosen menyapa mahasiswa yang tengah duduk menunggu sesuatu.
“Belajar apa? Kenapa tidak masuk kelas”kata dosen tersebut
“Kami belum tahu nomor HP dosen kami Pa, kami hanya tahu namanya Bu Musdalifah” kata mahasiswa tersebut
Mendengar nama saya disebut kemudian saya menyahut, bahwa sayalah dosen yang mereka tunggu. Kemudian kami menuju ke kelas yang dimaksud dan ternyata jadwal yang mereka terima sama dengan jadwal yang ada di papan informasi juga sama dengan yang jadwal yang ada di gawai saya. Jadi, saya semakin yakin bahwa jadwal kami memang benar adanya bahwa kami akan melakukan proses pembelajaran di ruangan A. Tiba disana, ternyata sudah ada dosen yang menempati ruangan tersebut. Jadi, mahasiswa saya mencoba untuk mencari ruangan yang kira-kira tidak digunakan di jam yang sama. Sekitar 30 menit saya menunggu, mereka menemukan ruangan di salah satu sudut gedung tersebut. Meskipun kecil tapi cukup untuk mereka yang akan belajar hari ini, karena tidak banyak mahasiswa yang datang. Hal itu biasa terjadi di awal pertemuan di awal semester. Kemudian saya berinisiatif untuk pertemuan selanjutnya proses pembelajaran akan dilaksanakan di ruangan yang seharusnya.
Kejadian tersebut saya sampaikan ke Ibu ketua jurusan B , dengan sigap beliau membalas Whatsapp (WA) saya dan mengatakan bahwa ruangan saya adalah di ruagan A itu bukan di ruangan C tempat saya saat ini melangsungkan proses pembelajaran dan beliau menyarankan untuk pertemuan selanjutnya agar kembali ke ruangan yang tertera dijadwal. Singkat cerita, di pertemuan selanjutnya saya kembali ke ruangan A dan hal yang sama terjadi. Sudah ada mahasiswa semester empat  sedang menunggu dosen mereka. Saya mencoba untuk berbicara dengan mereka bahwa mahasiswa saya sudah menunggu untuk belajar sambil menunjukkan jadwal yang saya terima dari pihak kampus. Mereka juga mengatakan bahwa jadwal mereka di ruangan ini dan di jam yang sama. Saya mencoba untuk menjelaskan tetapi mahasiswa tersebut mulai agak kurang sopan, dengan mengalihkan wajahnya ketika saya berbicara dengan mereka. Kemudian saya memanggil ketua tingkat dari kelas yang akan saya ajar untuk berkomunikasi dengan ibu ketua jurusan mereka. Untuk mengofirmasi terkait jadwal yang ada, meskipun minggu lalu saya sudah menyampaikan hal ini kepadanya. Tak berapa lama, mahasiswa tersebut datang dan mencoba melobi adik tingkatnya untuk mengerti bahwa dosennya sudah datang, sementara mereka sedang menunggu dosennya yang katanya sedang dalam perjalanan. Tetapi, untuk menghormati dosen yang sudah ada mahasiswa saya meminta mereka untuk mencari ruangan lain sembari menunggu dosennya. Dia mengarahkan adik tingkatnya itu untuk menunggu di ruangan yang tempo hari tempat kami belajar.
Tiga puluh menit kemudian disaat saya tengah menjelaskan materi, seorang Ibu datang ke depan pintu ruangan saya.
“Maaf Bu, tidak boleh seperti ini Bu?” kata Ibu itu dengan nada yang setengah teriak di depan pintua ruangan tempat saya mengajar.
“Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu Bu?”kataku dengan nada lirih karena tidak ingin mahasiswa saya mendengarnya.
“Perkenalkan Bu, saya ini ketua jurusan AAAAA….”katanya sambil menyodorkan tangannya kepadaku untuk disalami. Saya sambut itu kemudian berkata,
“Iya bu, ada apa ya Bu?” tanyaku
“Ibu tidak bisa seperti ini, Ibu mengajar di ruangan ini sedangkan mahasiswa jurusan AAAAA juga belajar diruangan yang sama. Ibu tidak boleh membiarkan mahasiswa ini berkeliaran diluar Bu” Katanya lagi
“Maaf Bu, jadwal yang saya terima itu di ruangan ini Bu, saya kemarin sudah komunikasi dengan ketua jurusan BBBBB Bu, katanya ruangan saya disini”
“Tidak bisa seperti itu dong Bu, Ibu Dosen Baru ya?”
“iya Bu saya masih baru disini” kataku sedikit menunduk sambil melihat mahasiswa saya sedang memerhatikan perdebatan kami di depan pintu
“Sudah berapa semester Ibu mengajar di sini? Ini kan jurusan AAAAA mahasiswanya banyak Bu, dan ruangan ini besar dan hanya bisa belajar diruangan ini saja” katanya lagi
“Ini semester yang kedua Bu saya mengajar di sini, saya minta maaf Bu. Minggu depan saya akan cari ruangan lain Bu” kataku lirih padahal dalam hati sudah mengamuk luar biasa. Saya hanya tidak mau, ini menjadi contoh yang tidak baik bagi mahasiswa saya kala itu. Mengalah lebih baik, lagian saya juga masih baru tidak boleh berbuat kesalahan, pikirku kala itu.
Kemudian saya meminta maaf kepada mahasiswa saya karena menyita waktu mereka untuk belajar dan juga atas perdebatan yang terjadi kepada kami sesama pengajar. Pertemuan selanjutnya kami belajar di ruangan C. Pada akhirnya saya tahu bahwa dosen yang ditunggu oleh mahasiswa AAAAA itu tadi ternyata tidak datang dan setelah saya cek, jumlahnya tidak lebih banyak dari mahasiswa jurusan BBBBB yang saya ajar itu.  Saya jadi teringat jaman saya kuliah dulu, ketika kejadian yang sama saya alami. Kami sekelas mengalah dengan mahasiswa lain yang dosennya sudah datang lebih dulu dari dosen kami. Dan juga tidak jarang dosen kami saling melempar senyum ketika ‘tabrakan jadwal’ ini terjadi. Sama sekali saya tidak pernah menemukan dosen-dosen kami yang bertengkar di depan mahasiswa perihal sepele seperti ini yang ada mereka hanya bercengkrama tertawa sambil menunggu teman kami yang sedang mencari ruangan kosong. Mereka mendidik kami dengan memberikan contoh teladan yang baik, alhasil alumni dari kampus kami sangat amat menjaga yang namanya sopan santun. Kampus tersebut memberikan saya pengalaman sangat berharga betapa penting sebuah kecerdasan dalam megolah emosi. Jika saja saya tidak stabil kala itu mungkin pertengkaran hebat yang akan terjadi, mengingat saya tipikal orang yang tempramen meskipun banyak senyumnya. Entah apa yang ada dipikiran Ibu tersebut, saya hanya tidak habis pikir saja seorang ketua jurusan mempunyai tabiat seperti itu. Tapi, saya berusaha untuk berpikir positif, mungkin saja dia punya masalah dan melampiaskan hari itu dan korbannya adalah saya atau mungkin saya saya sedkiti lebih manis dari dia jadi dia sensitive dengan saya heheheheh. Anggap saja ini adalah ‘ospek mental’sebagai dosen baru.
Banyak belajar dan berusaha untuk memperbaiki diri lebih baik lagi, lebih banyak belajar lagi tentang teknik mengolah emosi, strategi pembelajaran yang baik dan dari kejadian ini saya sadar bahwa masih banyak hal yang perlu saya pelajari dan perbaiki lagi. Dan saya juga baru tahu, bahwa semester itu adalah semester akhir bagi saya untuk menjadi seorang tenaga pengajar di kampus tersebut. And at the end, I am gonna be starting it from the scratch. Ini adalah pelajaran bagi saya, bagi dosen baru.

Share and Enjoy !

0
0Shares

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Hayo mau ngapain???