Fiction

Dosa Termanis

Dia duduk di depan siswanya sambil menahan sakit kepala yang dialaminya. Di balik pintu wajahnya tampak lemas karena demam, dia bersikeras memaksakan diri untuk melaksanakan kewajibannya di sekolah. Bukan tanpa alasan, dia begitu menyayangi anak didiknya sampai dia lupa menyayangi dirinya sendiri.

Sosok yang menjadi idola sejak masih menjadi mahasiswa baru masih menjadi idola di tempat kerjanya. Entah apakah aku beruntung menjadi salah satu guru magang di tempat dia bekerja atau bagaimana. Tapi, selama disini aku bisa memerhatikan dia diam-diam meskipun beberapa kali tertangkap basah olehnya.

Dulu, memandangnya pun aku tak berani hanya bisa melihatnya dari sudut lapangan tempat dia latihan basket tiap sorenya. Sama sekali tidak menyangka, kakak kelas di SMA kini menjadi kakak tingkat di fakultas dan jurusan yang sama. Kupikir dia kuliah diluar negeri ternyata aku salah dan sekarang aku magang di tempat dia bekerja.

Hari itu dia pulang cepat karena kurang sehat, jadi aku yang akan menggantikannya beberapa hari kedepan. Rasa khawatir itu muncul dan tak bisa kubendung, jujur aku masih segan berkomunikasi dengannya meskipun sudah mengenalnya beberapa lama tapi kami tidak sedekat itu.

Kak, gimana demamnya? satu pesan terkirim setelah berpikir seribu kali

Udah mendingan de, gimana kabar sekolah?

Aman terkendali kak, balasku singkat

Mohon bantuannya ya, nanti aku traktir sebagai ucapan terimakasih

Wah terimakasih kak, ada simpul senyumyang hadir disudut bibir.

Dan benar dia menepati janjinya, meskipun ditraktir di kantin sekolah tapi ngobrol langsung dengannya adalah sesuatu yang selalu menjadi anganku. Sejak hari itu kami sering makan siang bersama. Entah mengapa bersamanya aku bisa jadi diri sendiri dan bisa ngobrol apa saja sampai lupa waktu kalau bel masuk kelas sudah berbunyi. Hingga akhirnya beberapa bulan berlalu dan periode magangku sudah berakhir. Hari ini makan siang terakhir kami,

“Menurut kamu bagaimana perempuan menganggap bahwa lelaki itu benar-benar bertanggung jawab?” tanyanya setelah bercerita panjang lebar tentang mantannya. Aku masih sibuk mengunyah rujak yang ada di depanku.

“Hummm, ini menurut aku yah kak, aku gak tau kalau yang lain” berhenti sejenak sambil menghabiskan makanan yang ada di mulutku.

“Menurut aku yah kak, laki-laki yang bertanggung jawab itu adalah menikahi, bukan memacari” jawabku santai sambil melanjutkan makananku.

Lalu, dia menoleh dan memandangku lama. Sadar akan hal itu aku langsung nyeletuk.

“Eh salah ya? Ini menurut aku loh kak ya”

Dia masih belum bergeming sampai bel masuk kelas berbunyi. Siang itu aku juga pamit dengannya dan akan kembali ke kampus mengerjakan laporan magang dan mulai fokus dengan skripsi.

***

Rasanya aku mulai terbiasa dengan ajakan makan siangnya dan melihatnya di kantin sekolah menungguku makan rujak kesukaanku. Gawaiku biasanya penuh notifikasi pesan dari dia. Ada yang hilang tapi bukan sandal dimasjid. Aku mulai terbiasa beraktivitas dengannya dan kini beberapa bulan tanpa berkomunikasi dengannya lagi.

Apa mungkin aku rindu? Apa mungkin perasaan kagum itu berubah menjadi suka atau malah sudah berbuah menjadi sayang?

Ada pesan masuk, belum sempat kubuka tapi aku bisa melihat nama kontaknya dan kalimat awal pesannya bahwa itu adalah undangan pernikahan. Perasaan berkecamuk di dada mulai meronta, overthinking mulai gak karuan. Perasaan gelisah dari mana ini, apakah dia akan menikah? Bukannya bagus? Tapi kenapa aku gelisah seperti ini.

Pertengkaran hebat terjadi antara hati dan pikiranku tak bisa kukendalikan lagi. Aku mematung memandangi layar smartphone sungguh tak berani membuka pesannya. Aku takut tidak bisa menerima kenyataan yang tidak aku harapkan.

Undangan pernikahan

Din, Ms Ani nikah minggu depan. Kamu datang ya.

Tiba-tiba badanku menghangat, ada rasa bahagia mendengar kabar itu. Entah bahagia karena ada salah satu teman yang menikah ataukah mengetahui bahwa bukan dia yang akan menikah.

Insya Allah kak, aku datang, jawabku singkat

Kabarnya gimana Din?

Obrolan di pesan itu berlanjut hampir tiap hari dan kami mulai dekat lagi, setelah beberapa bulan ini beku tanpa kabar.

Oh iya aku manggung di Hotel Paris loh, di sana ada music livenya. Nanti kapan-kapan aku ajak kesana yah.

Wah seru banget tuh kak, makin tebel nih dompetnya. Bolehlah aku ditraktir lagi hehe.

Hahaha lumayan sih, atau mau jadi vokalis disini? Dulu pernah punya cita-cita pengen jadi penyanyi di café kan?

Iya kak, hahaha masih ingat ceritaku tentang itu ya hehe

Ingat dong masa iya lupa, aku selalu ingat semua tentang kamu.

***

Suasana pernikahan teman kami cukup ramai, dia adalah salah satu guru di tempat aku magang dulu. Di kejauhan seseorang dengan kemeja hitam dan celana panjang hitam lengkap dengan panthofel yang mengkilap melambaikan tangannya dan berjalan mendekatiku.

Semakin dia mendekat berjalan ke arahku semakin aku paham jika aku menyayangi Radtya Ahmad. Kakak kelas dan kakak tingkat dan guru senior di tempat aku magang. Dan senyumku kepadanya mampu ditafsirkan olehnya bahwa kita memiliki perasaan yang sama. Tapi, lagi-lagi hati kami saling mengikat tanpa ada ikrar yang di ucapkan oleh kami berdua. Apalah gunanya kata jika mata mampu mengungkapkan semuanya.

Apalah gunanya kata jika mata mampu mengungkapkan semuanya.

Dinda

***

Kedekatan tak bernama ini terus berlanjut membuatku semakin yakin bahwa hubungan ini akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dan untuk pertama kalinya aku memberanikan diri membicarakan hal ini dengan orang tua jika kelak hubungan ini menjadi serius maka apa yang harus aku lakukan.

Ayah yang terdiam memandangi layar smartphonenya. Aku yang masih menunggu jawaban iya atau tidak tidak berhenti menatap Ayah. Kuberanikan sekali lagi bertanya, berharap aku mendapat jawaban yang kuinginkan.

“Yah, kalau ada yang datang mau melamar gimana Yah?”

“Selesaikan kuliahnya dulu baru pikir yang lainnya”

Ada yang mendidih tapi bukan air panas. Aku yang masih mengerjakan skripsi tidak bisa menerima alasan itu sebagai tameng penundaan pernikahan. Ternyata seperti ini rasanya kecewa dengan orang yang sangat dicintai. Ingin marah tapi takut dosa.

***

Sakit tapi tidak berdarah adalah ungkapan yang cocok atas kejadian kemarin. Ingin rasanya aku lari, mengamuk dan berteriak sekeras-kerasnya tapi apa daya aku hanya anak yang berusaha berbakti kepada orang tua. Aku tahu pengorbananku tidak ada apa-apanya di banding perjuangan mereka yang membesarkanku sedari kecil.

Disisi lain rasa sayang ini semakin kuat dan akan sakit jika harus melepaskannya. Aku mulai nyaman dengan hubungan tak bernama ini dan berharap bisa menyatu dengannya lahir dan batin seketika luluh lantak karena pernyataan dari seseorang yang menjadi cinta pertamaku sejak menghembuskan nafas di dunia ini.

Sungguh aku tak berdaya dan tak mampu berkata apa-apa. Aku terdiam dan mulai terisak setelah sujud terakhir di sore itu. Tiba-tiba ponselku berdering,

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh, Ms Ani ada yang bisa saya bantu?”

“ Walaikumussalam, lagi sibuk de? Bisa bicara sebentar?”

“Bisa Ms, ada apa ya?” . Dia adalah Ms Ani yang cukup dekat denganku juga waktu magang. Dia banyak membantuku beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

“De, sudah punya calon?”

“Calon apa Ms?” tanyaku balik

“Calon suami”

“Ah . .. belum Ms”

“De, menurut kamu gimana dengan Pak Radit”

Jantungku berdegup kencang bukan main, kalau ini serangan jantung mungkin aku sudah ahh sudahlah. Hal yang takutkan benar-benar terjadi. Tapi kenapa bukan Kak Radit yang ngomong langsung ke aku.

“Ms…..” Aku terdiam lama, pikiranku kembali ke percakapanku dengan Ayah tempo hari.

“Ms, aku merasa gak pantas dengan kak Radit, eh maksudku dengan Pak Radit. Aku masih kuliah sedangkan dia sudah menjadi wakil kepala sekolah”

“Tapi kan Dinda udah hampir kelar kuliahnya, nanti bisa ngajar di sekolah juga”

“Ms, mungkin banyak lebih baik dari aku Ms”

Tidak lama percakapanku dengan Ms Ani. Aku merintih kesakitan memegang dadaku yang sudah sesak. Aku belum pernah mengalami sakit seperti ini. Menjerit tanpa bersuara, seperti ditikam pisau tapi tak berdarah namun perihnya menusuk tajam ke dalam kalbu.

Aku belum pernah mengalami sakit seperti ini. Menjerit tanpa bersuara, seperti ditikam pisau tapi tak berdarah namun perihnya menusuk tajam ke dalam kalbu.

Dinda

Aku ingin marah, tapi marah pada siapa? Pada Ayah? Atau marah sama Tuhan? Sungguh itu tidak mungkin. Aku marah dengan diriku sendiri karena tak mampu menerima kenyataan ini. Aku marah dengan diriku sendiri karena tidak mampu mengendalikan diri harusnya aku bisa lebih stabil dari ini.

Aku mengurung diri dikamar berusaha untuk mendapatkan diriku kembali yang hilang kendali karena tak mampu mengontrol emosi. Aku menepi dari segala keramaian didunia luar untuk menarik diriku kembali yang entah berlarian kemana. Aku tersesat dan aku tidak tahu apakah aku bisa kembali pulang.

***

“Ms hari ini Siska tidak bisa ikut belajar tadi Maminya menelpon” kata wali kelas dari murid yang akan aku ajar hari ini. Setelah lulus kemarin aku langsung mendaftarkan diri menjadi salah satu pengajar di sekolah. Aku berusaha bangkit kembali dan perlahan mulai menerima keadaan.

Seperti biasa setelah selesai mengajar semua guru berkumpul di ruang guru, mereka tengah sibuk membungkus kado.

“Ms Dinda siap-siap ya kita mau ke acara pernikahan anaknya Pak kepala sekolah”

Aku meletakkan buku, absen dan perangkat pembelajaran yang ada dalam rangkulanku dan bersiap-siap ke acara yang dimaksud. Aku begitu bersemangat karena niatnya ingin makan banyak di pesta, karena tidak sempat lunch disekolah tadi. Hehehe

Di depan Hotel Paris kulihat papan ucapan selamat mengukir sebuah nama yang sangat familiar “Raditya A Purnomo dan….”. Aku mulai meyakinkan diriku bahwa itu bukan dia, bukan nama dia.

“Yah, itu bukan dia”

Kaki mulai kaku, tak mampu berjalan dengan baik. Di pelaminan itu ada sosok yang ku kenal tengah berdiri menyapa para tamu dan tersenyum manis. Aku seperti pernah ada di posisi ini, apakah ini dejavu?. Aku pernah memimpikan pria itu mengenakan baju yang sama tapi kenapa bukan aku yang ada disampingnya. Kenapa bukan aku yang merangkul tangannya?.

Semakin aku berjalan mendekatinya semakin aku tidak percaya apa yang disaksikan oleh mataku. Aku menghentikan langkahku dan berbalik arah menyeka air mata yang tak sanggup aku tahan lagi. Aku kembali kehilangan diriku.

Sejenak waktu terasa mati

Menatap lelakiku mengucap janji suci

Untuk berjanji sehidup-semati

Dengan dia yang mereka cintai

Mimpi meraih surga bersama telah pupus

Ikatan yang berakar pun terputus

Menjadi layu di bulan Agustus

Karena si Bunga misterius

Senyumnya piluku

Bahagianya dukaku

Hasratmu bersamaku

Nafasmu hidupku

Kini merindumu adalah dosaku

Karena sunnahmu haram bagiku menyentuhmu

Maka biarkan kau menjadi halal dalam imajiku

Menjadi asa yang siap jadi nyata setiap waktu

Makassar,  July 2018

*Dosa Termanis– Puisi Terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia oleh UKM Universitas Negeri Padang tahun 2018

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Hayo mau ngapain???